| fat-hul hidayah |
يا ايها النبي حرض المؤمنين على القتال
“Wahai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukminin untuk berperang” (Q.S Al-Anfal:65)
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam, Yang mengatur siang dan malam, Membagi rezki diantara makhluk-Nya,
Yang Maha Adil lagi Maha bijaksana. Aku bersaksi tiada Ilah melainkan
Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Utusan-Nya
yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah, menasehati ummat dan
berjihad di jalan Rabb-Nya dengan sebenar-benarnya jihad serta
meninggalkan ummatnya diatas manhaj yang terangbenderang, tidak ada
seorangpun yang menyimpang darinya kecuali akan binasa. Shalawat dan
salam senantiasa tercurahkan keharibaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan orang-orang yang masih istiqomah di atas manhaj beliau.
Allah memerintahkan Nabi, dalam surah
Al-Anfal ayat 65, agar mengobarkan semangat para sahabat untuk berperang
fi sabilillah demi membela Islam dan muslimin. Pada saat perang Badr,
ketika pasukan musyrikin mendekati barisan kaum muslimin, Rasulullah
berseru:”Berdirilah kalian (untuk menyemabut perang) menuju surga yang
luasnya antara langit dan bumi”. Umair bin Al-Hammam berdiri:”luasnya
anatara langit dan bumi!”. Beliau bersabda:”ya”. Umair berkata:”Ckckck”.
Beliau bertanya:” apa yang membuatmu sampai berkata “Ckckckck”? Ia
menjawab:”Mudah-mudahan saya menjadi penguninya”. Rasulullah
menjawab:”Kamu termasuk penghuninya”.
Kemudian Umair memecahkan sarung
pedangnya dan mengeluarkan beberapa buah kurma. Ia memakan berapa buah
darinya dan membuang kurma yang tersisa seraya berkata:”Jika aku masih
hidup dan memakan kurma itu berarti itu adalah kehidupan yang panjang”.
Kemudian ia maju ke medan perang dan gugur sebagai syahid.
Lantas apa maksud dari kisah dan judul
yang akan kita bahas. Sesungguhnya itu sangat berkaitan erat mengingat
kita diperintahkan untuk mengobarkan semangat jihad fi sabilillah dan
memenuhi seruan jihad.
Menghindari Tersebarnya berita yang Melemahkan Kaum Muslimin dan Mengubahnya Menjadi Gelora Juang Yang Berkobar-Kobar
Ada penggalan kisah di perang Uhud yang
memberikan pesan agar kita menghindari “desas-desus” berita yang bisa
melemahkan kaum muslimin lalu kita menyikapinya dengan “pas” meskipun
berita tersebut masih belum jelas kepastiannya. Kisah tersebut
memberikan pesan berarti dan terlihat jelas pada sikap Taliban.
Pada saat kaum muslimin mengalami
keguncangan di medan Uhud muncul teriakan “Muhammad telah terbunuh”.
Teriakan tersebut dalam riwayat disinyalir bersumber dari Syaithan atau
jin yang berperawakan sejengkal, dia disebut izib.
Saat mendengar teriakan terebut kaum
muslimin langsung lemah dan patah semangat yang hampir mengantarkan kaum
muslimin pada kebinasaan. Namun hal tersebut langsung disikapi oleh
seorang sahabat bernama Anas bin An-Nadhr dengan hal yang berbeda. Dia
tidak menafikan kabar tersebut agar menenagkan para sahabat dan juga
tidak membenarkan kabar tersebut karena belum diketahui kepastiannya.
Namun apa yang dilakukan oleh sahabat Anas? Ia berseru:”Apa yang kalian tunggu, mereka bilang kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah
meninggal. Apa yang kalian perbuat setelah sepeninggalnya? Maka matilah
kalian diatas sesuatu yang beliau gugur diatasnya (yaitu dijalan
jihad)”. Kalimat ini tidak membenarkan gugurnya beliau karena disitu dia
mengatakan “mereka bilang” dan juga tidak menafikan karena setelahnya
ada kalimat yang “seolah-olah” menerima omongan tersebut. Namun kalimat
ini menghancurkan dinding-dinding kegelisahan dan keputusharapan.
Korelasi Sikap Taliban dan Semangat Uhud
Begitu juga dengan Taliban. Saat
gencar-gencarnya media memberitakan serangan di Abottabat yang
mengakibatkan gugurnya Komandan Tertinggi Al-Qaidah , Syaikh Usamah bin
Ladin -Taqabbalahullah- , maka Zabihullah selaku Jubir Imarah
Islam Afghanistan, segera menampik kabar tersebt dan mengatakan bahwa
Syaikh Usamah masih hidup lagi diberi Rezki. Namun beliau menyetir ayat
“Janganlah kalian menganggap orang yang terbunuh dijalan Allah itu mati,
bahkan mereka itu hidup disisi Rabb mereka lagi mendapatkan Rezki”.
Beliau tidak menafikan dan juga tidak membenarkan. Hanya saja media
sekulerlah yang mengatakan bahwa Taliban menafikan. Padahal sesungguhnya
pesan tersebut lain.
Secara kejiwaan, ketika seorang komandan
gugur, maka prajurit akan kelabakan karena kehilangan figure yang
mengatur strategi perang dan fase-fase penetrasinya. Apalagi sosoknya
sudah melekat dalam jiwa prajuritnya. Maka berita yang dihembuskan
tentang kematiannya akan memberikan kontribusi untuk membuyarkan
semangat prajurit tersebut.
Forum-forum diskusi pun memberikan
sumbangsih dalam menyikapi hal tersebut. Mereka sadar bahwa mereka harus
menyusul komandanya ketika mereka ditinggal pergi. Karena kehidupan
sebenarnya telah didapatkan oleh sang komandan. Maka tunggu apalagi,
rapatkan barisan kuatkan azam dan maju ke medan untuk menyambut
kehidupan hakiki. Karena gugur sebagai syuhada adalah dambaan seorang
mukmin. Inilah semangat yang dapat kita ambil dari sikap Taliban dan
penggalan periastiwa Uhud.
Wallahu Ghalibun ‘ala amrihi walakinna aktsrannasi la ya’lamunsumber:
(voa islam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar