| fat-hul hidayah |
oleh : Ustadz Abu Aisyah
Jika seseorang bertanya: Mengapa Salafy sebagai ideologi? Dan mengapa Jihady sebagai metodologi?
Kami katakan:
Salafy sebagai aqidah (Ideologi):
Karena Allah memujinya dan menghargainya. Sebagaimana firmanNya, yang ditujukan untuk Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wassalam- dan shahabatnya ridhwanullahi ‘alaihim,
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْاۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُۚ
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka…” (Al Baqarah [2]: 137)
Maka siapa saja yang sesuai dengan shahabat dan Salafusholeh dalam aqidahnya, maka ia telah mendapat petunjuk. Dan siapa saja yang menyelisihi mereka, maka dia termasuk firqah (golongan yang berselisih), dan ia tidak akan mampu untuk melakukan apapun yang dia inginkan untuk berbuat kerusakan di bumi, cukuplah Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam mengabarkan bahwa siapa saja yang berada di atas aqidah Salaf (ridhwanullahi ‘alaihim), maka ia selamat, dan selainnya akan binasa. Beliau -shallallaahu ‘alaihi wassalam- bersabda, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu”. Dikatakan kepada beliau, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Siapa saja yang berada di atas apa yang aku dan shahabatku berada saat ini” (Diriwayatkan at-Tirmidzi dan al-Hakim, Hadits hasan)
Beliau -shallallaahu ‘alaihi wassalam- juga bersabda, memuji Salaf, menyalahkan mereka yang datang setelahnya dan tidak mengikuti petunjuk mereka (salaf), “Sebaik-baiknya umatku adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka… Setelah mereka akan muncul golongan yang bersaksi tanpa diminta, berkhianat dan tidak bisa dipercaya, bernadzar/berjanji dan tidak pernah menunaikannya, dan kegendutan akan menyebar di antara mereka” (Riwayat Ahmad dan lainnya, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam al-Fatawa, “Apa yang diketahui sebagai keharusan, bagi orang-orang yang memahami Al Qur’an dan Sunnah, dan yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dari semua golongan, bahwa generasi terbaik umat ini –dalam perbuatan, perkataan, keyakinan dan lain-lain dalam semua kebajikan- adalah generasi pertama, kemudian generasi yang mengikuti mereka, kemudian generasi yang mengikuti mereka, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wassalam dari sejumlah segi. Mereka lebih baik daripada generasi berikutnya dalam segala kebajikan, mulai dari ilmu, keimanan, kepandaian, kefasihan berbicara dan ibadahnya. Mereka yang terbaik dalam menjelaskan segala yang samar. Tiada seorangpun menolak hal ini kecuali orang yang membuang apa yang wajib diketahui dari Dienul Islam, orang yang disesatkan oleh Allah, walaupun ia mengetahui. Sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, ‘Barangsiapa dari kalian ingin mengambil teladan, maka hendaknya mengambil teladan dari orang yang telah meninggal, karena yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka adalah shahabat Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wassalam-, mereka adalah sebaik-baiknya umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit berlebih-lebihan. Sebuah umat yang dipilih oleh Allah untuk menjadi shahabat NabiNya -shallallaahu ‘alaihi wassalam- dan untuk menegakkan Dien ini. Maka ketahuilah kehormatan dan hak-hak mereka, dan berpeganglah kepada petunjuk mereka, karena mereka berada dalam petunjuk yang lurus.’ Dan betapa indah apa yang dikatakan asy-Syafi’I dalam ar-Risalahnya, ‘Mereka berada di atas kita dalam setiap ilmu, kepandaian, amal, kebajikan dan dalam setiap sebab yang dapat membimbing untuk mencapai ilmu atau memahami petunjuk. Pendapat mereka lebih baik untuk kita daripada pendapat kita sendiri’” (Selesai perkataan Syaikhul Islam)
Maka telah jelas, bagi mereka yang memiliki pendengaran dan akal, bahwa aqidah Salaf adalah jalan yang menolong kita dari api neraka, membimbing menuju surga, tempat tinggal bagi orang-orang baik. Semua jalan selainnya –aqidah atau pemikiran- adalah jalan yang merusak yang menggiring kepada adzab Allah dan nerakaNya.
Lalu mengapa Jihad sebagai manhaj ?
Hal ini karena jalan Jihad adalah jalan yang diperintahkan Allah kepada NabiNya -shallallaahu ‘alaihi wassalam- dalam firmanNya,
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَۚ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَۖ
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang)…” (An Nisa [4]: 84)
Juga, karena Nabi -shallallaahu ‘alaihi wassalam- diutus untuk mengajak kepada Tauhidullah dengan pedang. Beliau -shallallaahu ‘alaihi wassalam- bersabda, “Aku telah diutus dengan pedang sebelum kiamat sehingga Allah saja yang disembah tanpa sekutu apapun” (Musnad Ahmad, dari Ibnu Umar, Shahih al-Jami’ No. 2831)
Beliau -shallallaahu ‘alaihi wassalam- telah diperintahkan untuk memerangi mereka yang mendustakannya, beliau bersabda, “Aku telah diperintahkan (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah”(Disepakati oleh Bukhari-Muslim, dari Ibnu Umar)
Maka inilah jalan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wassalam- yang Allah perintahkan kita untuk mengikuti dan menirunya. Allah ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (Al Ahzab [33]: 21)
Allah juga telah menjanjikan petunjuk bagi orang-orang yang menempuh jalan Jihad, Dia berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۚ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”(Al Ankabut [29]: 69)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam al-Fatawa, “Jihad selalu membimbing kepada petunjuk, yang meliputi semua pengetahuan, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (Al Ankabut [29]: 69). Maka Dia akan memberi petunjuk kepada jalan-jalanNya kepada orang yang berjihad fii sabilillaah. Oleh sebab itu dua Imam, Imam Ibnul Mubarak dan Imam Ahmad bin Hambal, dan selainnya, berkata, ‘Jika manusia berselisih pendapat mengenai suatu perkara maka lihatlah apa yang dipegang oleh Ahlu Tsughuur (orang-orang yang senantiasa ribath/berjaga di perbatasan negeri) sebab kebenaran bersama mereka. Karena Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”(Al Ankabut [29]: 69) (Majmu’ Fatawa 28/442)
Sebagai tambahan, Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- mengabarkan bahwa Thaifah al Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan), yang mendapat petunjuk, akan tetap ada tak pernah hilang sampai Allah mewariskan Bumi beserta isinya. Jalan menuju kemenangan ini adalah memerangi, memusuhi, berkelompok dan melakukan Jihad.
Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- bersabda, “Dien ini akan senantiasa tagak, ada sekelompok kaum Muslim selalu berperang di atasnya, hingga datang hari kiamat” (Shahih Muslim)
Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang berperang untuk Kalimatullah, menaklukkan musuh-musuh mereka, orang-orang yang menyelisihi tidak akan membahayakan mereka, hingga hari kiamat tiba dan mereka tetap di atas hal itu” (Shahih Muslim)
Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- bersabda, “Akan senantiasa ada di antara umatku satu kelompok yang berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa menang hingga hari kiamat.” Beliau bersabda: “Lantas Isa ibnu Maryam turun, maka pemimpin kelompok tersebut berkata, ‘Kemarilah, shalatlah sebagai imam kami!’ Maka Isa menjawab, ‘Tidak, sebagian kalian memimpin sebagian yang lain sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini.’” (Shahih Muslim)
Kelompok ini akan tetap ada hingga tiba hari Kiamat, tidak ada suatu zaman tanpa keberadaan mereka. Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata tentang faedah dari hadits-hadits tentang Thaifah Manshurah, “Itu adalah kabar gembira yang menunjukkan bahwa kebenaran tidak akan pernah hilang secara total, sebagaimana hilangnya kebenaran dari umat-umat sebelum kita. Akan selalu ada sekelompok orang yang berada di atas kebenaran.”(Kitab Tauhid)
Maka hal ini menjadi jelas dengannya, dan dengan selainnya, bahwa Thaifah Manshurah, yang telah disebutkan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- dan beliau menganjurkan untuk menambah jumlahnya, adalah kelompok yang berperang dengan pedang. Dan siapapun yang menyelisihi atau meninggalkan mereka, maka ia tidak termasuk golongan mereka
Menggabungkan antara Dua Hadits:
Hadits: “Siapa saja yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada saat ini,” yang dengannya Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- memuji Aqidah Salaf dan memerintahkan untuk berpegang kepadanya.
Dan hadits: “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku, yang berperang untuk kalimatullah,” yang dengannya Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wassalam- memuji Manhaj Jihad dan mendorong untuk menapaki jalannya.
Sekarang telah jelas, bahwa Salafiyah Jihadiyah adalah Thaifah Manshurah, yang dijanjikan oleh Allah dan RasulNya -shallallaahu ‘alaihi wassalam- dengan kemenangan dan penaklukan terhadap musuh-musuh Islam. Dan juga telah jelas, bahwa semua yang menyelisihi jalan ini, baik ia tidak menerima Aqidah Salaf atau tidak menapaki jalan Jihad, maka ia termasuk golongan yang menyimpang.
Oleh karena itu, saudaraku, jadilah Salafy Jihady dengan hati dan raga, maka engkau akan beruntung. Ikuti kafilah Mujahidin, engkau akan menang, dan ikuti jalan orang-orang yang “keras kepada orang-orang kafir dan kasih sayang kepada sesame mereka”(Al Fath [48]: 29). Dan berhati-hatilah dari jalan orang-orang munafik, “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu".(At Taubah [9]: 46).
Sebuah peringatan: Ibnul Qayyim –rahimahullah- dalam Zaadul Ma’ad berkata, “Dakwah kepada Allah dan tempat kedamaian (surga) telah menggerakkan jiwa yang mulia dengan semangat yang besar. Dan dakwah kepada keimanan telah membuat risalah didengar oleh orang-orang yang memiliki pendengan yang mampu memahami. Dan Allah menjadikan orang-orang yang hidup bisa mendengar. Maka apa yang mereka dengar menggugah mereka perilaku orang-orang sholih, menggerakkan mereka di jalannya, dan mereka tidak akan berhenti sebelum mencapai tanah kediaman (surga)” Nabi -shallallaahu ‘alaihi wassalam- bersabda, “Allah menjamin memberi pahala bagi orang yang keluar dijalanNya, dimana ia tidak keluar kecuali karena keimanan kepadaKu dan membenarkan RasulKu maka Aku akan mengembalikannya dengan pahala, ghonimah atau Aku memasukkannya ke jannah. Kalaulah tidak memberatkan ummatku maka aku akan terus mengirim sariyyah (satuan operasi militer). Dan aku berangan-angan untuk terbunuh di jalan Allah kemudian hidup kembali kemudian terbunuh kemudian hidup kembali kemudian terbunuh”. (Shahih Bukhari)
Wallahu a’lam.
Dan semoga shalawat dan keselamatan dari Allah tetap tercurah kepada RasulNya, keluarganya dan para shahabatnya.
*Diambil secukupnya dari artikel yang diterjemahkan dari : Salafiyyah is the Manhaj (Methodology) of the Jihaadee Groups
sumber:
[shoutussalam]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar