| fat-hul hidayah |
Pertanyaan: Praktek dari menjauhi atau mengkufuri thoghut itu bagaimana Ustadz?
Jawab: Menjauhi atau mengkufuri thoghut itu ada tingkatan-tingkatannya, masing-masing beramal sesuai dengan kemampuannya. Adapun tingkatan yang paling tinggi adalah dengan melaksnakan dzirwatu sanaamil Islaam yaitu jihad melawan para thoghut, melawan pendukung-pendukungnya dan melawan pengikut-pengikutnya, untuk menghancurkannya sehingga dapat membebaskan manusia dari beribadah kepadanya lalu diluruskan agar beribadah hanya kepada Alloh ta’aalaa semata. Alloh subhanahu wata'ala berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ
Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan sampai seluruh diin itu hanya milik Alloh…
Yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kekafiran dan kesyirikan, yang bentuknya antara lain praktek beribadah kepada thoghut.
Disamping itu harus pro aktif mengamalkan millah Ibrohim, yakni berlepas diri dari thoghut secara terang-terangan. Sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Ibrohim dan umat beliau dan diikuti oleh para Nabi dan Rosul, termasuk Nabi kita Muhammad salallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang diterangkan oleh Alloh subhanahu wata'ala dalam firmannya:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ﴿الممتحنة: ٤﴾
Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada Ibrohim dan orang-orang yang bersamanya ketika mereka mengatakan kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami baroo’ (berlepas diri dan memusuhi) kepada kalian dan kepada apa yang kalian ibadahi selain Alloh. Kami kufur terhadap kalian dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya sampai kalian beriman hanya kepada Alloh semata. (Al Mumtahanah: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Ibrohim dan umatnya berlepas diri, memusuhi dan membenci thoghut dan sikap Nabi Ibrohim dan umatnya ini dinyatakan oleh Alloh sebagai uswatun hasanah bagi kita umat Islam.
FirmanNya yang berbunyi ( بدا ) artinya adalah ( ظهر ) “nampak” dan ( بان ) “jelas”. Di dalam ayat ini lebih didahulukan permusuhan sebelum kebencian, karena hal ini menunjukkan bahwa permusuhan itu lebih penting dari pada kebencian, sebab terkadang manusia itu membenci pengikut-pengikut thoghut namun ia tidak memusuhi mereka sehingga ia tidak dikatakan telah melaksanakan millah Ibrohim sampai ia melaksanakan permusuhan dan kebencian.
Namun jika jihad melawan thoghut belum mampu, maka yang wajib dilakukan adalah i’daadul quwwah baik secara maaddiy, yakni i’daad untuk menyusun kekuatan fisik dan senjata maupun secara ma’nawiy, yakni i’daad untuk membentuk kekuatan aqidah, kekuatan iman, kesempurnaan ukhuwwah dan menumbuhkan semangat jihad serta cinta mati syahid sampai kewajiban jihad dapat dilaksanakan. I’daad seperti yang diterangkan di atas hukumnya wajib karena diperintahkan oleh Alloh subhanahu wata'ala dalam surat Al Anfal yang berbunyi:
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ
Dan persiapkanlah segala kekuatan yang kalian sanggupi untuk menghadapi mereka …
Dan firman Alloh subhanahu wata'ala di dalam surat At Taubah yang berbunyi:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً
Dan seandainya mereka memang ingin keluar untuk berjihad tentu mereka melakukan persiapan…
Dan jika i’daad juga belum mampu maka ia harus berusaha hijroh ke negara yang bisa diamalkan jihad atau i’daad. Hijroh ini hukumnya wajib bila ada kemampuan. Apabila sampai tidak diamalkan maka ada ancaman Alloh subhanahu wata'ala seperti yang disebutkan di dalam firmanNya yang berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا ﴿النساء: ٩٧﴾
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri mereka sendiri, kepada mereka malaikat bertanya:"Dalam keadaan bagaimana kamu ini". Mereka menjawab:"kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri kami". Para malaikat berkata:"Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali,(An-Nisa: 97)
Dan jika hijrohpun dia juga tidak mampu, lantaran tidak bisa meloloskan diri dari kekuasaan orang-orang kafir atau lantaran tidak tahu jalan hijroh, maka hendaknya dia ‘uzlah, yakni menghindar diri dari masyarakat pendukung thoghut. Sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh subhanahu wata'ala di dalam surat ayat-ayat berikut:
وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ... ﴿مريم: ٤٨﴾
Dan aku tinggalkan kalian dan apa-apa yang kalian ibadahi selain Alloh. .. (Maryam: 48)
Dan di dalam surat Al Kahfi yang berbunyi:
وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ ...﴿الكهف: ١٦﴾
Dan ingatlah ketika kalian meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh.
Dan demikian pula firman Alloh ta’aalaa dalam surat Maryam yang berbunyi:
فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ...﴿مريم: ٤٩﴾
Maka ketika ia meninggalkan mereka dan apa yang mereka ibadahi selain Alloh…
Dan ditempat ‘uzlah hendaklah ia banyak membaca doa orang-orang mustadl’afiin seperti yang Alloh sebutkan di dalam surat An Nisaa’ yang berbunyi:
رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا ﴿النساء: ٧٥﴾
Wahai robb kami, keluarkanlah kami dari negeri kami yang penduduknya dholim, dan berikanlah pelindung kepada kami dari sisi Mu, dan berikanlah kepada kami penolong dari sisiMu.)An-Nisa: 75)
Meskipun dalam keadaan lemah dan uzlah ia tetap tidak boleh menunjukkan sikap ridlo atau setuju terhadap para thoghut. Alloh berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan telah Aku utus pada setiap umat seorang Rosul (yang berseru): Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut
Dan Alloh ta’aalaa berfirman:
فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ اْلأَوْثَانِ
Dan jauhilah kotoran yang berupa berhala-berhala.
Berhala seperti yang tersebut di dalam ayat di atas adalah merupakan salah satu bentuk thoghut.
Dan Alloh berfirman tentang doa yang diucapkan oleh Ibrohim:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ اْلأَصْنَامَ
Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari beribadah kepada patung-patung.
Apabila sikap berlepas diri, memusuhi dan membenci thoghut menurut kemampuan tidak diamalkan, maka dia di akherat akan termasuk orang-orang yang rugi, dan sama sekali tidak akan berguna dan bermanfaat seberapapun waktu yang ia habiskan dalam mengamalkan ajaran Islam.
Kecuali jika dia mukroh, yakni karena dipaksa dan tidak mampu melawan, ketika itu boleh pura-pura melunak sedang hatinya harus tetap membenci thoghut dan tenang dengan iman, sebagaina yang diterangkan di dalam firman Alloh subhanahu wata'ala di dalam surat An Nahl:
مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿النحل: ١٠٦﴾
Barang siapa kafir kepada Alloh setelah ia beriman kecuali orang yang mukroh (dipaksa) sedangkan hatinya tetap beriman, akan tetapi orang yang dadanya lapang terhadap kekafiran tersebut, maka baginya adalah murka dari Alloh dan siksa yang besar. (QS. An Nahl: 106).
*)Dari buku "Menyoroti Manhaj Takfir Luqman Baabduh", oleh Ustadz Abu Musa Ath-Thoyyar fakkallahu asroh, terbitan Jahizuna.
sumber:
[shoutussalam]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar